Pertanyaan Seputar I’tikaf

Pertanyaan Seputar I’tikaf, Noak.id, Ketika berbicara tentang 10 malam terakhir bulan Ramadhan, maka ada jutaan kaum muslimin yang melakukan I’tikaf di masjid-masjid tentu untuk mendapatkan Ridha Allah dan Mendapatkan Malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Malam Lailatur Qadr sendiri Allah rahasiakan, tetapi kita di beri petunjuk tentang kapan akan turun yakni pada malam-malam ganjil 10 malam terakhir Bulan Ramdahan. Karena keutamaannya yang sungguh luar biasa, tentu ada banyak pertanyaan tentang I’tikaf itu sendiri.

Pertanyaan Seputar I'tikaf

freepikBerikut 5 pertanyaan yang sering di tanyakan tentang I’tikaf yang perlu kita ketahui:

1. Apakah syarat sahnya I’tikaf?

Ada beberapa syarat yang menjadi penentu sahnya i’tikaf, yaitu:

1) beragama Islam;

2) sudah baligh, baik laki-laki maupun perempuan;

3) Dilaksanakan di masjid, baik masjid jami’ maupun masjid biasa;

4) niat hendak melakukan i’tikaf;

5) tidak disyaratkan bagi orang yang puasa saja.

2. Adakah perbedaan pendapat ulama tentang I’tikaf?

Berikut beberapa perbedaan pendapat ulama terkait I’tikaf:

I’tikaf tidak disyaratkan bagi orang yang puasa. Ini disebutkan oleh Syaikh Samir bin Jamil bin Ahmad ar-Radhi dalam kitab “Ad-Du’aa’ wal I’tikaaf” yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Abu Ihsan al-Atsari menjadi “I’tikaf Menurut Sunnah yang Shahih” mengutip mazhab asy-Syafi’i, Hanbali dan Zhahiri dan termasuk pendapat Sa’id bin al-Musayyib, Hasan al-Bashri, ‘Atha’, Thawuus, Abu Tsaur dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz.

Mereka berpendapat bahwa puasa bukan syarat sahnya i’tikaf, karena puasa dan i’tikaf dua ibadah yang terpisah. Pendapat ini juga dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhuma dan satu riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu anhuma.

Sedangkan mazhab Malik, Auza’i, Ats-Tsauri, al-Laitsi bin Sa’ad, az-Zuhri, satu riwayat dari Thawus, satu riwayat dari Ahmad dan Ishaq, mereka berpendapat tidak boleh melakukan i’tikaf kecuali orang yang berpuasa. Pendapat ini juga dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma dan dalam riwayat lain disebutkan ini adalah pendapat ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma.

See also  Saling Menasehati Sebagai Sumber Motivasi Keharmonisan Keluarga

Abu Hanifah menetapkan bahwa i’tikaf hanya untuk orang yang bernazar saja. Pentingnya syarat ini bahwa apabila kita pegang pendapat kedua berarti orang yang beri’tikaf wajib berpuasa dan ini juga berarti bahwa i’tikaf tidak boleh dilakukan pada malam hari atau beberapa saat di malam hari dan hanya boleh dilakukan pada siang hari atau beberapa saat pada siang hari.

pertanyaan tentang i'tikaf, cara mengatasi kesulitan dalam mendirikan shalat malam, Berikut kumpulan hadis tentang qiyamul lail yang menunjukkan pentingnya ibadah ini:, Tips Membiasakan Shalat Tahajud, doa shalat tahajud, doa ketika bangun malam, ahli surga, manfaat shalat tahajud, ilustrasi shalat malam di masjid
ilustrasi shalat malam di masjid (source: Shirotul Mustaqim)

3. Berapa lama waktu kita I’tikaf?

Pendapat fuqaha’ tentang batas waktu itikaf, yakni satu hari penuh menurut pendapat yang paling sedikit. Jika kita tidak mengambil pendapat yang mensyaratkan puasa untuk i’tikaf berarti boleh melakukan i’tikaf kapan saja, baik di waktu malam maupun siang.

4. Apakah boleh kita keluar masjid saat I’tikaf?

Para ulama sepakat agar tidak keluar masjid saat melaksanakan i’tikaf. Boleh keluar masjid dengan beberapa alasan seperti:

1) karena ’udzrin syar’iyyin (alasan syar’i), seperti melaksanakan sholat Jum’at;

2) karena hajah thabi’iyyah (keperluan hajat manusia) baik yang bersifat naluri maupun yang bukan naluri, seperti buang air besar, kecil, mandi janabah dan lainnya;

3) karena sesuatu yang sangat darurat, seperti ketika bangunan masjid runtuh dan lainnya.

5. Apa amalan-amalan saat I’tikaf?

Sementara itu, ada beberapa amalan (ibadah) yang dapat dilaksanakan oleh orang yang melaksanakan i’tikaf, yaitu:

1) melaksanakan sholat sunat, seperti sholat tahiyatul masjid, sholat lail dan lain-lain;

3) Membaca Al-Qur’an dan tadarus Al-Qur’an;

3) Berdzikir dan berdo’a;

4) membaca buku-buku agama.

Demikianlah 5 pertanyaan umum seputar I’tikaf yang sering menjadi pertanyaan di masyarakat. Waalahu’alam