Kisah Sebuah Penghapus By Bang Zul Zulkieflimansyah Gubernur NTB

Kisah Sebuah Penghapus By Bang Zul Zulkieflimansyah Gubernur NTB
Kisah Sebuah Penghapus By Bang Zul Zulkieflimansyah Gubernur NTB

Noak.id,  – Dalam laman fans page facebook Bang Zulkeflimansyah selaku Gubernur NTB tahun 2022, membuat postingan untuk memberikan semangat kepada para penerima Beasiswa. Berikut kutipannya:

Kisah Sebuah Penghapus
Awardee beasiswa NTB baca ini ya ..
******
KOLOM: Kisah Sebuah Penghapus
Di kelas saya di ITB dulu saya sebenarnya termasuk golongan minoritas: perwakilan dari kelas pinggiran. Ya, saya memang berasal dari kampung jepung di pelosok Jawa. Saya lahir di Karanganyar atau Solo coret. Dan masa kecil saya habiskan di desa Karangpandan, Karanganyar coret (atau Solo coret kuadrat). Saya dulu tentunya tidak kenal apa itu penghapus (kata dalam judul di atas), tahunya setip. Dulu bentuknya kotak dengan warna putih dan ujungnya hijau. Kadang ada gambarnya bendera atau buah dsb. Baunya wangi, yang merupakan sejenis sumber kegembiraan tersendiri bagi desa. Buku saya sampulnya ungu dan dibuat oleh pabrik kertas Letjes. Tapi suatu saat ada juga yang bergambar Koes Plus dan bahkan gambar yang membuat saya percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini: Astronot Edwin B Aldrin yang sedang menjejak bulan. Sementara itu kosa kata untuk peruncing pensil adalah ongotan atau urek. Demikianlah tentu kata-kata ini asing bagi anak kota.
Kondisi saya, alhamdulillah, cukup tertolong dengan pergaulan di kampus yang tentunya merupakan arena pembauran segala kalangan. Kadang saya merasa lega ternyata banyak juga teman-teman saya yang berasal dari pelosok. Mereka belajar ke ITB sebagai kaum pendatang dan perantau. Masing-masing mempunyai strategi untuk survive di dunia akademik yang penuh kompetisi itu. Kalo kita boleh percaya pada bunyi tulisan pada plang di depan gerbang kampus maka mereka adalah “putra putri terbaik Indonesia”. Terbaik
dari kecamatannya masing-masing. Kita tidak pernah tahu betapa sebagian dari mereka melewati proses keputusan yang tidak mudah. Untuk menanggung biaya pindah ke kota perlu untuk either menjual sawah atau kerbaunya. Bila sawah dijual, kerbaunya nganggur. Kalo kerbau dijual, siapa yang menarik garu dan luku?
🍂
Bila anak-anak millenials sekarang ini meja belajarnya buatan IKEA maka masa itu sebagian teman saya (yang berada) memakai buatan Ligna. Saya sendiri sangat bersyukur mempunyai meja lungsuran dari kakak saya. Meja tersebut adalah karya dari desainer pinggir jalan di seberang pasar Balubur. Bila desain IKEA terkesan slim dan minimalis. Maka desain Balubur ini bergaya… recycle. Papan kayu banyak yang tidak rata atau malah berlubang sehingga harus didempul. Saya curiga bahan bakunya memang dari boks bekas. Tapi tentunya tetap saya syukuri, minimal berbentuk menyerupai meja belajar. Apalagi kakak saya cukup kreatif dengan melapisi permukaan meja dengan sejenis plastik atau vynil bercorak. Believe it or not, penampakan akhirnya tidak jauh dari meja-meja di majalah interior. Terutama kalo dilihat, agak jauh, dari luar rumah.

Dengan setting seperti di atas saya menyelesaikan saya dalam waktu 4.5 tahun. Bila ada yang mengatakan you are the average of five people around you, maka saya merasa sangat beruntung karena interaksi dengan dosen-dosen di ITB yang

hebat

kala itu. Saya kadang terheran-heran atau kagum dengan cara berpikir dan kepercayaan diri para pendidik tersebut. Bagaimana mereka memperoleh way of thinking seperti itu. Saya membatin ini pastilah datang dari pendidikannya. Sebagian besar dosen yang mengajar saya lulus dari universitas terkemuka Amerika: MIT, Purdue, Berkeley dsb. Blio-blio yang membentuk cara berpikir dan juga attitude secara keseluruhan: cara berpikir analitis dan kritis, pendekatan yang sistematis dan yang paling utama kemandirian dan self confidence. Resilience. Sikap dan pendirian bahwa setiap masalah ada jalan keluarnya. In the most hopeless situation, there IS light on the other side of the tunnel.

See also  Energi Trust by Dewa Eka Prayoga
🍂
Dalam sebuah episod, setelah saya lulus dan ditawari posisi dosen muda, saya memperoleh admission letter dari MIT (sesudah proses rumit selama setahun). Menteri Ristek Habibie menandatangani beasiswa saya. Namun karena birokrasi yang panjang beasiswa tidak bisa cair sampai minggu pertama kuliah. Pintu dan harapan terakhir saya adalah pintu kantor Professor O Diran. Pendiri Jurusan Teknik Penerbangan. Di lingkungan ITB ruang Prof Diran ibarat sarang naga. You should know what you’re doing with the entry. Namun saya tahu persis objective dan resikonya. Bila saya tidak memperoleh beasiswa semester itu everything is gone. Semua persiapan panjang dan hasil admission yang seperti unta masuk lubang jarum bisa tidak ada gunanya. Now or never. Demikianlah dengan mengumpulkan segenap keberanian saya mengetuk pintu.
Prof Diran mendongakkan kepala dari tempat duduknya di antara berkas-berkas yang sedang ditekuninya:
“Yes, Sir…?”
Pandangannya tajam dan bila diartikulasikan kira-kira berbunyi : I am busy and you’d better not waste my time.
Saya menelan ludah dan mengatakan,
“Your door is the last one. If I don’t succeed I have nowhere else to go”.
Demi mendengar kalimat tersebut blio melepaskan ballpennya dan mempersilakan saya masuk. Saya ceritakan beasiswa saya yang nyangkut. Dan bahwa saya juga sudah mencoba berbagai jalur: Bappenas, BPPT, US Embassy,… Juga sudah konsultasi ke semua dosen senior. To no avail.
“When do you need to go (to start your study at MIT)?”
“Two days ago. The spring semester started last Tuesday..”.
Di luar dugaan, bukan kalimat penghiburan atau apa yang disampaikan, blio beranjak dari tempat duduk berjalan keluar sambil mengatakan:
“Follow me Pak”
Kebiasaan blio adalah menggunakan bahasa Inggris dan mengaddress siapa saja (kolega, bawahan, para menteri, dirjen, KSAU, pak penjual bakso, petugas cleaning service, dan para mahasiswa) secara flat: Pak.
Yang dituju ternyata adalah ruangan Kepala Jurusan Teknik Mesin, kala itu dijabat oleh Pak Satryo Sumantri Brodjonegoro. Secara singkat Pak Diran menjelaskan casenya:
“Pak Agus should have started his study several days ago at MIT, Pak Satryo. As his scholarship is pending, we need to find a way to support him at least temporarily. I will call Pak Habibie this evening to update him and make sure his scholarship is secured. Meanwhile, can you arrange an interim support? I will be his ‘borg’”
Tanpa ada diskusi, Pak Satryo membuka laci mejanya dan mengeluarkan check. Berapa yang diperlukan. Saya sudah membuat hitung-hitungan di kepala dan menjawab, empat puluh lima juta rupiah. Cukup untuk airfare, bayar dorm dan biaya hidup beberapa waktu. Dari pembicaraan pendek yang berlangsung, saya mengetahui bahwa uang yang diberikan ke saya sore itu “dipinjamkan” dari uang Koperasi ITB. Salah seorang teman saya kebetulan bekerja part time di sana, yang dijual adalah alat tulis: pensil, ballpen, penggaris dan penghapus. Saya terharu, sementara teman-teman saya sekelas di MIT memperoleh beasiswa dari perusahaan raksasa seperti General Dynamics, Raytheon atau Airbus, saya berangkat dengan biaya dari laba jualan penghapus.
Dalam perjalanan kembali kembali ke kantornya Prof Diran meminta saya segera pergi dan mengurus semua yang diperlukan untuk keberangkatan saya secepatnya. Saya menghaturkan terima kasih dan berpamitan. Saya mendengar tentunya percakapan antara Pak Satryo yang membahas dan mengkhawatirkan para penerima beasiswa yang tidak kembali (sesudah selesai belajar). Entah darimana Professor Diran menyimpulkan sambil melihat ke arah saya: “But he will come back”.
Dari dekat pintu ruangannya, belum tiga langkah saya berjalan, blio mengatakan:
“Please remember this arrangement for you Pak. Do not forget your country”
🍂
Saya menyelesaikan studi saya di MIT (dimana Edwin B Aldrin dulu belajar) dan total berada di lingkungannya selama hampir 10 tahun. Berpuluh-puluh tahun kemudian saya masih mengingat dan mengamalkan kata-kata professor saya.
Demikianlah dan penyemangat untuk para penerima beasiswa dari Bang Zulkieflimansyah selaku Gubernur NTB
Sumber: https://web.facebook.com/bangzul.zulkieflimansyah