BAYAR HUTANG BATIN By Dewa Eka Prayoga

Noak.ID, Bayar hutang batin – Sebagian sudah banyak yang tahu, sebagian lagi mungkin belum, tentang kesalahan orang lain yang harus Saya tanggung, tentang kebangkrutan yang harus saya akui sebagai hutang. Alhamdulillah Allah ijinkan lunas semua.
Angkanya waktu itu fantastis, males juga Saya sebut-sebut lagi. Tapi karena kejadiannya dua pekan setelah Saya menikah dengan Wiwin Supiyah, maka pernikahan awal kami adalah pernikahan perjuangan. Banyak hal yang gak bisa Saya tunaikan ke istri, seperti suami-suami lain pada umumnya.
Sedikit sahabat Saya yang tahu, bagaimana Saya menulis buku, mengejar judul demi judul, karena memang dahulu cashflownya besar ya disitu. Gak nulis, berarti gak dapat duit.
Puluhan brand dengan arus income produktif itu ya sekarang, dulu Saya fokus di jasa edukasi dengan segala turunannya, jadi ya harus dikerjain sendiri.
Saya sering nulis dari malam sampe pagi. Paginya lanjut lagi aktivitas berat. Saya kerja gila seperti ini sebelum saya sakit gangguan saraf tepi, GBS (Guillain Barre Syndrome).
Bisa jadi kena GBS karena pola aktivitas Saya yang tinggi dan jarang istirahat. Akhirnya jelas kan, istirahat aja jarang, apalagi sempat ngobrol panjang sama istri, main sama anak, atau banyak jalan-jalan seperti pasangan romantis lainnya. Banyak hutang, gimana mau jalan-jalan? Malu juga. Gak pantes.
Alhamdulillah, hutang lunas. Tapi ada hal yang menurut Saya masih terhutang, hutang batin Saya ke istri.
bayar hutang by dewa eka prayoga
sumber: fb dewa eka prayoga
Ada hutang batin, dimana waktu istri mau cerita banyak, Saya waktu itu sibuk untuk ngejar penyelesaian masalah hutang.
Ada hutang batin, dimana istri waktu itu pasti ada pengen ini dan pengen itu, tapi beliau banyak nahan diri, karena Saya banyak hutang, bahkan sampai sekarang. Masih kebawa. Jarang bilang.
Ada hutang batin, dimana waktu itu istri harusnya bisa punya waktu banyak bersama, tetapi Saya harus cari jalan mencari rezeki, dari klien ke klien, dari forum ke forum, dari acara ke acara. Hampir gak ada waktu untuk bisa duduk-duduk bersama.
Hutang batin ini, inilah yang Saya niatkan tebus hari ini. Maka sekalian saja menyampaikan ini ke rekan mitra bisnis, mitra dakwah, dan kawan-kawan, bahwa jam dedicated untuk keluarga adalah hal yang gak bisa diganggu gugat.
Saya dan istri serius mendedikasikan waktu bersama, bahkan belajar bareng. Komitmen.
Sampai hari ini, Saya masih merasa dan mengakui, bahwa belum bisa menjadi suami yang baik, ayah yang baik, dan inilah hutang yang masih menggelayut di jiwa Saya hari ini.
Hutang batin padamu…
Akankah ku mampu membayarnya….
Semoga Allah sempatkan (dan mampukan).
See also  Saling Menasehati Sebagai Sumber Motivasi Keharmonisan Keluarga