BANGUN BISNIS, bukan bikin kerjaan

BANGUN BISNIS, bukan bikin kerjaan

Membangun Bisnis (2)

Sedari awal kita harus punya pijakan berpikir yang jelas. Apa itu bangun bisnis, dan apa itu menjalankan bisnis. Jika dari titik ini kita sudah gak jelas, maka kesananya makin repot, dan tentunya makin gak jelas.

Pada tulisan kemarin saya nulis tentang bagaimana bangun mental untuk kolaborasi sehingga bisa punya banyak bisnis produktif. Bisa jadi, cukup banyak yang penasaran bagaimana saya mengelola sebegitu banyak brand.

Kembali ke pijakan berpikir di paragraf pertama, yang kita bangun adalah bisnisnya, bukan sibuk bangun kerjaannya.
Loh, dimana bedanya?

Sangat banyak yang saya temukan, para pebisnis sibuk melakukan pekerjaan teknis menjalankan bisnis. Senang untuk mengerjakan langsung, bahkan untuk hal-hal hang bisa didelegasikan.

Cara kerja seperti ini bagus jika Anda masih awalan mengerjakan bisnis. Namun jika sudah masuk pada tahap pengembangan, maka membangun tim adalah keharusan pilihan, karena waktu gak bisa dikorting. Sehari ya 24 jam. Gak bisa ditawar.

Maka kuncian yang ada di benak saya langsung membangun bisnis, agar bisnis bisa terus berjalan dan berputar, tanpa harus repot-repot menunggu kehadiran saya.

Bahaya Ketergantungan

Bisnis sebisa mungkin harus dipastikan bisa berjalan, tanpa banyak keterlibatan kita sebagai owner. Ketergantungan itu berbahaya, apalagi di posisi saya yang berperan juga sebagai influencer.

Kalo gak saya post, gak jalan.

Kalo saya gak dorong tim, gak jalan.

Yang begitu saya hindari. Maka sangat banyak brand yang berjalan tanpa saya banyak ngepost, atau terlibat jauh. Ini juga yang menyebabkan kawan-kawan suka bertanya, “ini punya Kang Dewa ya?”

Lalu bagaimana membangun tim

Membangun Bisnis (2)
Pertama, harus cari talent yang memang mampu ngejalanin, punya potensi, cekatan dalam memimpin bisnis. Eksekusinya rapi.

See also  6 Tips memulai usaha sampingan untuk karyawan

Kedua, pegang kuncian rasio terhadap sales. Kuncian keuangan ini jadi pegangan bener nggak nya operasi. Misalnya HPP barang terjual itu ada di kisaran 60%, jika lompat jadi 75%, ya berarti tim operasi ada miss. Entah harga kemurahan, atau harga supplier bahan baku kemahalan.

Ketiga, harus berani evaluasi tim, harus berani tegur, berani keras, dan ambil keputusan jika organisasi sudah salah arah.
Di bagian ketiga ini, saya gak segan-segan menutup program aktivitas yang tidak berdampak pada pertumbuhan. Hanya buang-buang biaya, gak ada hasil. Gak semua owner berani begini.

Intinya itu….

Bangun bisnis, duduklah sebagai shareholders, awasi secara intensif, evaluasi, kawal… tapi bukan turun langsung, ngerjain yang harusnya bisa dikerjain orang lain.

Jangan sampai organisasi sudah besar, SDM banyak, tetapi masih ingin keliatan heroik angkat paket, ngelakban, jawabin pelanggan.
Kita pemimpin bisnis, goals kita hasil, bukan decak kagum karyawan, atau decak kagum tim. Maka bertugaslah sesuai posisi nya, posisi owner yang helicopter view, bukan micromanagement.

Demikian. Boleh dishare, semoga mencerahkan.

 

Sumber: Fb Dewa Eka Prayoga